Seri Kebaikan dan Kebajikan #14

Tini Dan Tumpahan Air Di Lantai

[et_pb_section fb_built=”1″ admin_label=”section” _builder_version=”3.22″][et_pb_row admin_label=”row” _builder_version=”3.25″ background_size=”initial” background_position=”top_left” background_repeat=”repeat”][et_pb_column type=”4_4″ _builder_version=”3.25″ custom_padding=”|||” custom_padding__hover=”|||”][et_pb_text admin_label=”Text” _builder_version=”4.9.0″ text_text_color=”#606060″ text_font_size=”16px” background_size=”initial” background_position=”top_left” background_repeat=”repeat”]

Satpam yang bertugas di depan pintu lobby itu tergopoh-gopoh berlari ke pintu lobi untuk membukakan pintu. Bos besar, seorang perempuan paruh baya yang terkenal galak baru saja turun dari mobil dan hendak masuk lobi kantor. Bos perempuan dengan sepatu hak lumayan tinggi itu pun berjala tergesa. Beruntung sang Satpam bisa meraih gagang pintu dan membukakan pintu pegas itu tepat waktu sehingga bos yang sedang tergesa tidak perlu membuka pintu sendiri. Kalau tidak ada yang membukakan pintu, bisa seharian ia marah kepada karyawan-karyawan yang bertugas di seputar lobi.

Satpam marah. Ia mencari Tini, door girl  berperawakan mungil yang sehari-hari bertugas sebagai pembuka pintu. Satpam menemukan Tini di ruang penyimpanan alat-alat kebersihan. Ia baru saja membersihan alat pel dan menaruhnya kembali di tempatnya.

“Kemana saja kamu. Itu tadi bos masuk lobi, kamu tidak ada di tempat. Kamu kan bertugas membukakan pintu?” hardik Satpam. “Untung saya ada  dan sempat membukakan pintu. Kalau tidak kita semua kena marah!”

“Maaf. Tadi ada sedikit genangan air di jalan masuk. Salah satu karyawan tak sengaja menumpahkan air”

“Kenapa musti kamu yang membersihkan. Kan ada petugas kebersihan?” Satpam masih marah dengan nada tinggi.

“Saya mencoba memanggil petugas kebersihan, tapi sepertinya mereka sedang mengerjakan pekerjaan lain,” kilah Tini.

“Harusnya tunggu sampai petugas kebersihan datang. Membersihkan lantai itu tugas bagian, bukan tugasmu”

“Maaf pak, saya salah,” ujar Tini tertunduk.

“Ya, sudah. Segera balik ke pintu sana,” kata Satpam. Tini segera kembali ke pintu, menjaga pintu.

Sesaat kemudian Satpam menerima pesan lewat HT, ia dipanggil bos besar. Bergegas Satpam memenuhi panggilan bos besar di kantornya di lantai 5. Tini memandang Satpam dengan wajah takut. Tini takut dia dipecat karena tak berada di belakang pintu ketika bos besar datang. Kalau ia dipecat, bagaimana janda dengan dua anak seperti Tini bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tini mendekapkan tangan di dada dan berdoa semoga tidak ada yang kena marah bos hari ini. Ia juga berdoa agar Satpam tidak kena murka si bos besar.

Setengah jam kemudian, Satpam kembali ke lobi. Mukanya tegang. Ia langsung menghampiri Tini. “Kamu dipanggil bos besar,” kata Satpam.

“Saya?” Tini tak percaya.

“Ya. Bos besar mau bicara sama kamu langsung!”

Dada Tini berdegup. Makin kuatir ia dengan nasibnya.

Tini mengetuk pintu depan kantor bos besar. Mbak Shirley, sekretaris bos yang membukakan pintu. Tini kemudian diminta menunggu. Masih ada satu pintu lagi untuk sampai di ruangan bos besar. Tini duduk tak tenang. Bayang-bayang pecat berlalu-lalang di benaknya.

Tak lama kemudian Tini diminta masuk, langsung disuruh duduk di depan bos besar.

“Tahu kenapa saya tadi masuk tergesa-gesa?” tanya bos kepada Tini.

“Maaf, bu saya tidak tahu. Maaf juga karena saya lalai, tidak membukakan pitu untuk ibu”
“Saya masuk tergesa-gesa karena saya ingin lekas masuk kantor. Saya ingin nangis sejadi-jadinya karena teman saya baik saja baru saja meninggal, terpeleset tumpahan sayur di lantai dapur rumahnya, kepalanya membentur lantai. Perkara sederhana, tapi membuatnya meninggal. Ia hamil satu bulan,” kata bos besar. Hati Tini makin ciut.

“Ini,” kata bos besar. Ia menyodorkan seamplop tebal uang. “Ini untuk kamu”

“Ini apa, bu?” tanya Tini takut. Jangan-jangan itu uang pesangon.

Bos besar tidak menjawab. Ia malah minta Tini melihat layar komputer yang menanyangkan rekaman CCTV Tini sedang membersihkan tumpahan air  dan beberapa saat setelah lantai kering, terlihat di layar monitor bos besar melintas dengan cepat.

Bos besar kemudian menatap Tini.

“Kalau saja kamu nunggu petugas kebersihan yang ngepel lantai, kalau saja kamu tidak segera turun tangan mengeringkan lantai, mungkin saya sudah jatuh ke belakang dan kepala membentur lantai. Kamu telah menyelamatkan saya. Saya berhutang budi. Terimakasih, Tini”

Tini tidak mampu berkata-kata.

“Di amplop ini ada uang 5 juta rupiah. Untuk kamu. Mulai sekarang kamu tidak perlu lagi jadi door girl. Kamu saya angkat menjadi kepala rumah tangga di perusahaan ini. Saya yakin kamu mampu menularkan gagasan dan prakarsa baik untuk menciptakan keamanan dan kebersihan di kantor ini”

Tini masih tidak mampu berkata-kata kecuali mengucapkan terimakasih. Ia tak menyangka, keikhlasannya untuk segera membersihkan lantai yang basah telah membuahkan penghargaan yang luas biasa dari atasan.

Sobat DarbeCoin, apakah Anda terinspirasi oleh kesigapan, ketulusan dan keikhlasan Tini?

[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *