Seri Kebaikan dan Kebajikan #13

Pelajaran Kebaikan Dari Tukang Asah Pisau

[et_pb_section fb_built=”1″ admin_label=”section” _builder_version=”3.22″][et_pb_row admin_label=”row” _builder_version=”3.25″ background_size=”initial” background_position=”top_left” background_repeat=”repeat”][et_pb_column type=”4_4″ _builder_version=”3.25″ custom_padding=”|||” custom_padding__hover=”|||”][et_pb_text admin_label=”Text” _builder_version=”4.9.0″ text_text_color=”#606060″ text_font_size=”16px” background_size=”initial” background_position=”top_left” background_repeat=”repeat”]

Di suatu Jumat pagi, tahun 2010. Pagi itu, sebut saja namanya pak Wardiman, baru saja meninggalkan warung makan. Bukan untuk sarapan, tapi untuk minum teh hangat dengan satu-satunya uang lembar Rp 500 yang ia punya. Nasi pecel lauk sederhana seharga Rp 5.000 tak terbeli.

Pak Wardiman memikul barang-barang dagangannya: sejumlah pisau dapur berbagai ukuran di keranjang kiri, dan pengasah pisau beserta air yang ia simpan di kaleng plastik bekas cat keranjang kanan. Pak Wardiman memang punya dua pekerjaan: jual pisau dan jasa asah pisau. Di keranjang kanan tertulis : “Asah Pisau Rp 1.000”

Sampai sejam kemudian, belum ada yang beli pisau atau minta asahkan pisau.  Barulah ketika ia berjalan jauh masuk ke sebuah perkampungan, seorang bapak menghentikan Pak Wardiman dan minta diasahkan pisau.

Pak Wardiman menyambut suka cita kustomer pertama di hari itu. Tangkas ia mengasah pisau dan sejenak kemudian pisau tumpul telah tajam kembali.

“Ini pak,” sang pria memberikan uang kertas pecahan Rp 2.000.

“Jasa asah pisau cuma Rp 1.000, Ini tidak ada kembalian. Ada uang pas?” kata pak Wardiman.

“Wah, ndak ada, pak. Sudah, nggak apa-apa, ambil saja kembaliannya,” kata si pria.

“Oh, maaf, saya tidak bisa menerimanya. Hak saya cuma Rp 1000,” tukas pak Wardiman.

“Tidak apa-apa. Saya ikhlas, pak,” lanjut si pria.

“Maaf, saya tetap tak bisa menerimanya,” jawab pak Wardiman. Begini saja, bapak bawa dulu uang ini. Nanti saya kembali ke sini setelah shalat Jumat. Pada saat itu, saya mungkin  sudah dapat uang penjualan dan jasa asah pisau, atau bapak sudah ada uang pas Rp 1.000-an,” kata pak Wardiman.

Si pria tercenung sesaat, merenungi prinsip sosial si tukang asah pisau. Sesaat si pria seperti tak menemukan ide bagaimana ia harus bersikap. Dan di saat itu pulalah, pak Wardiman berkata:

“Atau begini saja pak, kalau bapak punya pisau tumpul lain di dapur, biarlah saya asahkan juga, agar sama-sama tak berhutang”

“Oh, ya, bagus itu. Saya ingat saya punya pisau lain. Sebentar ya, saya ambilkan,” kata si pria. Pria itu berjalan ke dapur, menimang satu pisau lain dan mengernyitkan dahi. Tak segera ia beranjak menemui tukang asah pisau. Betapa arif bijaksana si tukang asah pisau yang tanpa disengaja telah mengajarinya banyak hal pagi ini. Pak Wardiman tidak mau menerima uang yang bukan haknya, rela pembayaran jasanya tertunda, dan menghadirkan solusi sosial ekonomis yang sama-sama nyaman.

Pak Wardiman telah mengajari pria ini peri kehidupan sederhana yang amat bermakna.

Apakah sobat-sobat DarbeCoin terinspirasi oleh kisah ini?

[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *