[et_pb_section fb_built=”1″ admin_label=”section” _builder_version=”3.22″][et_pb_row admin_label=”row” _builder_version=”3.25″ background_size=”initial” background_position=”top_left” background_repeat=”repeat”][et_pb_column type=”4_4″ _builder_version=”3.25″ custom_padding=”|||” custom_padding__hover=”|||”][et_pb_text admin_label=”Text” _builder_version=”4.9.0″ text_text_color=”#606060″ text_font_size=”16px” background_size=”initial” background_position=”top_left” background_repeat=”repeat” hover_enabled=”0″ sticky_enabled=”0″]
Di suatu hari Kamis, tahun 2001, di sebuah penggalan jalan. Tampak pemandangan tetap di penggalan jalan itu, yakni warung soto ayam pak Kirman, kios penjual buah Bu Tumirah, kios pedagang pulsa telepon seluler Mas Achmad dan jasa tambal ban Pak Tugimin.
Menjelang siang, di depan warung soto Pak Kirman, berdiri seorang paruh baya bertampang rapi bersih, berkemeja putih necis menenteng tas kulit.
“Permisi, Pak!” orang itu menyapa Pak Kirman yang sedang sibuk menyayat daging ayam di tengah saat makan siang yang sibuk. “Saya dokter. Mobil saya mogok di ujung jalan itu. Saya lupa bawa dompet dan HP saya ketinggalan. Saya harus segera ke rumah sakit naik taksi. Bisakah saya pinjam uang Rp 50.000? Nanti sore saya kembalikan,” ujar orang itu.
Pak Kirman mendongak dan memandangi orang itu dari atas ke bawah dengan mimik sinis. “Maaf, saya tidak punya uang sebanyak itu,” ujar Pak Kirman. Orang itu segera pergi.
“Ia pasti penipu. Banyak penipu berlagak perlente sekarang ini,” kata Pak Kirman pada orang-orang di warungnya. Orang-orang manggut-manggut mengiyakan.
Dan mampirlah orang itu ke warung buah-buahan Bu Tumirah.
“Saya dokter. Mobil saya mogok di ujung jalan itu. Saya lupa bawa dompet dan HP saya ketinggalan. Saya harus segera ke rumah sakit naik taksi. Bisakah saya pinjam uang Rp 50.000? Nanti sore saya kembalikan,”
“Pak, mbok jangan aneh-aneh, masak orang ndak kenal tiba-tiba pinjam uang lima puluh ribu,” Bu Tumirah melengos. Pembeli melon turut memandang dengan tatapan curiga.
Orang necis itu kemudian melangkah ke kios pulsa Mas Achmad. “Permisi. Saya dokter. Mobil saya mogok di ujung jalan itu. Saya lupa bawa dompet dan HP saya ketinggalan. Saya harus segera ke rumah sakit naik taksi. Minta tolong pinjam Rp 50.000? Nanti sore saya kembalikan”
Mas Achmad mendengarkan bicara orang itu, dan langsung memandangnya rendah. “Pak, saya kasih tahu ya, kalau mau menipu, Anda cari tempat lain saja!”
Pria necis itu tampak mulai putus asa. Namun ia tetap melangkah ke tenda tempat Pak Tugimin sedia jasa tambal ban.
“Permisi, pak. Saya dokter. Mobil saya mogok di ujung jalan itu. Saya lupa bawa dompet dan HP saya ketinggalan. Saya harus segera ke rumah sakit naik taksi. Saya boleh pinjam uang Rp 50.000? Nanti sore saya kembalikan,”
Pak Tugimin yang sedang berjongkok membersihkan ember menatapnya sesaat, lalu tanpa banyak bicara menghampiri kaleng usang di pojok tenda dan merogoh uang dari dalamnya. Ia menghitung lembaran kumal lima ribuan dan seribuan. Dijungkirnya kaleng itu untuk mengeluarkan kepalan-kepalan uang kertas dan sejumlah uang logam. “Sepuluh ribu, sebelas ribu, lima belas ribu, dua puluh satu ribu lima ratus rupiah! Hanya ada segini!” Pak Tugimin mengangsurkan uang-uang receh kumal yang menumpuk di telapak tangannya. Cepat orang itu meraihnya, seolah takut Pak Tugimin urung meminjamkan uang itu.
“Terimakasih, pak. Nama bapak siapa?” tanya orang itu.
“Tugimin!”
“Nanti sore saya kembali ke sini,” orang itu melintas jalan, melambaikan tangan ke arah taksi yang lewat dan lenyap ke dalam taksi. Pak Tugimin membersihkan kaleng usang tempat uang yang kini kosong melompong. Tiga tetangga yang tadi sibuk luar biasa kini menatap kepergian orang itu dengan geram di dekat tenda Pak Tugimin.
“Pak Tugimin kenapa kasih dia uang?” tanya Pak Kirman.
“Nanti sore pasti dikembalikan,” tukas pak Tugimin.
“Dia itu penipu. Banyak yang berlagak seperti itu sekarang ini,” sambung Bu Tumirah.
“Saya ikhlas, kok!” tutur pak Tugimin.
“Bagaimana sih Pak Tugimin, hidup susah kok berlagak beramal,” kata Mas Achmad.
Sampai menjelang sore orang-orang terus bergunjing soal orang perlente yang sukses meminjam uang dari Pak Tugimin. Pak Tugimin sendiri baru bisa makan siang selepas jam 3, setelah menerima pembayaran satu jasa tambal. Dan seperti yang diperkirakan orang-orang, sore itu orang ‘sang dokter’ tidak kembali ke jalan itu. Ke-tiga orang tetangga yang telah meminjamkan uang ternyata benar, ‘dokter’ itu pasti cuma tukang tipu.
Seminggu kemudian, menjelang matahari terbenam, sebuah mobil amat bagus dan mengkilap berhenti di depan tenda tambal ban Pak Tugimin. Begitu pintu mobil dibuka, tertebar hawa sejuk dan aroma harum parfum mobil. Orang yang sudah seminggu dipergunjingkan sebagai penipu itu turun dari mobil, senecis dan sebersih minggu lalu, mendekati Pak Tugimin.
“Beribu-ribu maaf, Pak Tugimin, saya terlambat seminggu dari janji saya. Ini uang bapak saya kembalikan, saya genapkan menjadi Rp 25.000.”
Pak Tugimin menerima uang itu. “Berkat uang pinjaman Pak Tugimin, saya tiba di rumah sakit tepat waktu dan bisa mengoperasi pasien saya dengan baik. Terlambat sedikit, pasien saya pasti meninggal”. Orang itu naik mobil kembali dan hilang dari pandangan. Pak Tugimin tertegun dengan uang duapuluh lima ribu di tangan.
Baru saja uang itu masuk kantong, tiba-tiba berhenti sebuah mobil lain. Pak Tugimin melirik jenis mobil yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Merknya pun tidak seperti biasanya.
Seorang perempuan berumur 40-an yang teramat cantik dengan kulit bersih turun dari mobil. Perempuan itu kemudian membuka pintu belakang. Di jok belakang duduk seorang laki-laki berusia sekitar 60-an. Ia tak banyak bergerak dan wajahnya tidak terlalu sehat, tapi ia terlihat tersenyum penuh semangat di balik kaca jendela yang sengaja diturunkan untuk mengirim keluar senyum itu.
“Pak Tugimin,” panggil orang itu. Pak Tugimin tak percaya orang itu memanggil namanya.
Orang itu menyerahkan sebuah kotak sebesar kotak sepatu. “Ini untuk Pak Tugimin”
“Apa ini?” Pak Tugimin mengira itu makanan.
“Saya pasien dokter Hariman. Ia berhasil menyelamatkan saya dengan operasi jantung tepat waktu berkat uang taksi yang Pak Tugimin pinjamkan. Ambillah, ini ucapan terimakasih sekadarnya dari saya”
Pak Tugimin menerima kotak itu setelah mengucapkan terimakasih. Setelh mobil itu berlalu dari pandangan, Pak Tugimin perlahan membuka kotak itu. Ia tak bisa mempercayai matanya. Uang dalam pecahan seratus ribuan baru. Gemetar ia membawa kotak uang itu ke tempat tersembunyi di tendanya. Tak mampu ia menghitung uang sebanyak itu. Ketiga tetangga yang tiba-tiba datang bersemangat membantu Pak Tugimin menghitung uang.
“Dua puluh satu juta limaratus ribu rupiah” ujar Mas Achmad seusai menghitung uang. Bu Tumirah menatap uang itu dengan air liur merembes di ujung bibir. Pak Kirman mondar-mandir di depan tenda tampak galau dan penuh sesal.
“Pak Tugimin mendapatkan 1000 kali yang ia pinjamkan,” tutur Pak Kirman.
“Uang sebanyak ini mau Pak Tugiman apakan?” tanya Bu Tumirah.
“Enam juta untuk Pak Kirman,” kata Pak Tugimin. “Enam juta untuk Bu Tumirah dan enam juta buat Mas Achmad”
Ketiga tetangga itu tercengang.
“Benar ini, Pak?” Mas Achmad berharap Pak Tugimin tidak sedang bercanda.
“Benar,” kata pak Tugimin. Ia diam menatap ketiga tetangga itu. “Untuk sampai pada saya, dokter itu sebelumnya dihalau oleh Masa Achmad. Sebelum ke Mas Achmad, ia diusir bu Tumirah dan sebelumnya disuruh pergi oleh Pak Kirman. Kalian semua masing-masing punya andil mengirim pak dokter ke tenda saya. Itulah sebabnya saya hanya akan merasa tenteram kalau cuma mendapakan sisanya”
Dan ketiga tetangga itu terdiam dan tercenung. Pak Tugimin membiarkan ketiga tetangga itu menafsirkan dan merenungi kata-katanya sementara ia mencecap sisa kopi terakhir di cangkirnya.
Apakah sobat DarbeCoin terinspirasi oleh kebaikan Pak Tugimin?
[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]
