Seri Kebaikan dan Kebajikan #16

Secarik Kertas Kebaikan

[et_pb_section fb_built=”1″ admin_label=”section” _builder_version=”3.22″][et_pb_row admin_label=”row” _builder_version=”3.25″ background_size=”initial” background_position=”top_left” background_repeat=”repeat”][et_pb_column type=”4_4″ _builder_version=”3.25″ custom_padding=”|||” custom_padding__hover=”|||”][et_pb_text admin_label=”Text” _builder_version=”4.9.0″ text_text_color=”#606060″ text_font_size=”16px” background_size=”initial” background_position=”top_left” background_repeat=”repeat” hover_enabled=”0″ sticky_enabled=”0″]

Eddy benar-benar menginjakkan kaki di Amerika Serikat di tengah hari, di musim panas 1992 setelah perjalanan panjang dari Surabaya via Jakarta sambung ke Tokyo, San Francisco dan akhirnya Seattle. Di Seattle, ia akan mengajar Bahasa Indonesia di University of Washington bersama sejumlah pengajar lain . Bagi Eddy yang baru saja lulus kuliah dan merintis karir di bidang pengajaran, ini tak pernah terbayangkan sebelumnya. Perjalanan ke Amerika Serikat merupakan impiannya sejak kecil.

Perjalanan ke Amerika ini bermuasal dari kebaikan hati salah satu dosen di tempat Eddy menimba ilmu, yakni FISIP UNAIR. Eddy lulus tahun 1988, dan bertemu  kembali dengan sang dosen ketika Eddy menengok kampus lamanya pada tahun 1991. Sang dosen baik hati berkata, “Ada kesempatan mengajar Bahasa Indonesia di Amerika. Kamu mau?”

Tentu saja Eddy mau. Siapa yang tak mau diberi kesempatan berkunjung ke Amerika? Dosen itu menulis satu nama dan alamat di secarik kertas sederhana dan memberikannya kepada Eddy. Eddy mengantongi carik kertas itu. Sesampai di rumah kos, karena kebetulan ada kegiatan lain, Eddy meletakkan carik kertas itu di laci meja, dan entah bagaimana sampai beberapa lama, ia tak ingat keberadaan carik kertas itu dan bahkan lupa ia pernah diberi carik kertas itu oleh dosen baik hati. Ia baru menemukan kembali carik kertas itu tanpa sengaja ketika membersihkan laci meja. Ia ingat carik kertas itu diberikan oleh dosen baik hati itu hampir setahun lalu. Ia baca baik-baik carik kertas yang berisi nama seorang profesor beserta alamatnya kampus University of Washington di Seattle, Amerika Serikat.

Timbul rasa bersalah di benak Eddy karena telah menyia-nyiakan informasi berharga itu. Ia segera membuka mesin ketik dan menulis surat lamaran untuk menjadi pengajar Bahasa Indonesia pada sebuah program khusus di University of Washington, tak lupa ia menyebutkan nama sang dosen sebagai referensi dan langsung ke Kantor Pos untuk mengirimkan surat itu dengan servis kilat. Sebulan kemudian Eddy menerima surat balasan. Lamarannya untuk mengajar di Amerika Serikat diterima. Eddy terbang ke Seattle pada awal Juni 1992, mengajar bahasa Indonesia pada program SEASSI (South East Asian Summer Studies Institute) di University of Washington dengan skema pendanaan dari Fulbright Scholarship. Ia sempat mengunjungi berbagai tempat menarik di Amerika Serikat termasuk Alaska, di mana ia menikmati sejumlah event tradisional perayaan hari kemerdekaan Amerika Serikat. Pendek kata, perjalanan itu merupakan pengalaman hebat dan perjalanan tak terlupakan dalam hidup Eddy.

Sahabat DarbeCoin, kadang kita menerima kebaikan dari orang lain dalam bentuk yang tidak langsung terlihat, melainkan harus melalui berbagai tahapan untuk mengalami bentuk nyata kebaikan itu. Secarik kertas yang Eddy terima dari dosen baik hati telah membawanya ke negeri yang banyak orang mimpikan untuk dikunjungi. Secarik awal kebaikan yang bahkan tak pernah surut tuahnya meski beberapa lama terlupakan. Jangan pernah remehkan kebaikan tak kasat yang orang lain berikan pada Anda karena itu bisa saja memberi Anda moment penting dalam hidup Anda yang tak akan terulang lagi.

* Salam hormat untuk Dr. D.O.

 

[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *