Seri Kebaikan dan Kebajikan #8

Memupuk Kebaikan dengan Belajar Mengakui Kesalahan

[et_pb_section fb_built=”1″ admin_label=”section” _builder_version=”3.22″][et_pb_row admin_label=”row” _builder_version=”3.25″ background_size=”initial” background_position=”top_left” background_repeat=”repeat”][et_pb_column type=”4_4″ _builder_version=”3.25″ custom_padding=”|||” custom_padding__hover=”|||”][et_pb_text admin_label=”Text” _builder_version=”4.9.0″ text_text_color=”#606060″ text_font_size=”16px” background_size=”initial” background_position=”top_left” background_repeat=”repeat” hover_enabled=”0″ sticky_enabled=”0″]

Apakah Anda kerap kali merasa sulit mengakui kesalahan, bahkan kesalahan kecil sekali pun? Apakah Anda sulit meminta maaf kepada orang yang dirugikan? Apakah Anda enggan memperbaiki suatu kesalahan yang Anda buat? Kalau Anda tak sengaja menyenggol dan merubuhkan tumpukan barang di minimarket, apakah Anda akan minta maaf kepada penjaga minimarket dan menata ulang tumpukan barang itu? Apabila Anda tak sengaja bersenggolan dengan orang, apakah Anda akan meminta maaf?

Kebaikan dan kebajikan bisa hadir dalam segala rupa. Dari ranah pribadi, kebaikan dan kebajikan bisa Anda tebarkan melalui kesediaan Anda untuk memahami dan mengakui kesalahan Anda. Jadi, apabila Anda tak tidak sengaja menyalip antrian, mintalah maaf pada orang yang Anda salip. Kalau Anda ditegur pengemudi lain di jalan raya karena berbelok tanpa sein dan membuat pengemudi lain terganggu, akui kesalahan dan teriakan kata ‘maaf….maaf!’. Bila Anda diingatkan untuk menggunakan masker dan menjaga jarak di tempat umum di saat pandemi seperti ini, akui kekhilafan Anda, bilang ‘maaf, terimakasih diingatkan’, dan lakukan apa yang seharusnya dilakukan. Kalau Anda berbicara terlalu keras saat menelepon di tempat umum dan menyadari orang-orang orang di sekeliling Anda mulai terganggu, segera kecilkan suara Anda, dan akui dalam hati bahwa Anda telah mengganggu kenyamanan orang lain.

Mengakui kesalahan itu memang gampang-gampang susah, terutama bila tidak terbiasa mengenali kesalahan sendiri. Ini bisa dilatih dan dibiasakan dengan mengembangkan kemampuan mawas diri dan kesiapan untuk menggunakan ujaran ‘maaf………. permisi’ dan selalu berpikir bahwa sangat mungkin sesuatu terjadi karena kesalahan kita dan kita wajib minta maaf serta memperbaiki kesalahan yang kita buat.

Kebiasaan ini akan membantu kita untuk mengatasi situasi-situasi sosial yang lebih besar, misalnya saat terjadi insiden di yang melibatkan kendaraan di jalan raya. Saat terjadi kecelakaan di jalan raya, misalnya, kita cenderung langsung menuduh orang lain yang bersalah yang seringkali berujung pada kericuhan. Itu karena manusia cenderung terlebih dahulu mempraktekkan defense mechanism  yang mencoba memberikan pembenaran pada diri sendiri dan menuduh orang lain yang bersalah.

Itulah sebabnya, jadikan kemampuan untuk menyalahkan diri sendiri sebagai bagian dari praktik-praktik kebaikan yang mulai kita pupuk dari hal-hal dan kejadian-kejadian sehari-hari yang sederhana. Pernik-pernik kebaikan seperti ini akan menimbulkan kemaslahatan bagi diri kita sendiri dan orang lain.

[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *