Lelaki tua itu berjualan krupuk samiler persis di dekat pintu masuk sebuah minimarket yang tak pernah sepi pembeli. Dua bungkus plastik besar berisi kemasan masing-masing sepuluh lembar samiler matang sepertinya masih utuh. Sangat jarang pengunjung minimarket menoleh samiler, melirikpun tidak.
Hari itu menjelang tengah hari. Penjual samiler lapar. Hari ini ia tidak punya cukup uang untuk membeli nasi dan sejak pagi belum ada samiler terjual. Kalau saja ada sebungkus terjual, ia bisa mengantongi Rp 10.000. Ia memperhatikan lalu-lalang pengunjung minimarket. Ia tahu minimarket ini menjual ayam goreng seharga Rp 10.000 per kotak dengan bonus nasi putih dan sambal kemasan. Tapi ia tak punya uang. Dari luar jendela minimarket ia melihat pegawai minimarket menggoreng ayam dan menata ayam goreng di atas baki penirisan di sebuah kotak kaca. Di dasar kotak kaca itu ia melihat banyak remahan bumbu ayam goreng. Remahan itu biasanya dibuang ke tempat sampah tak jauh dari tempat ia berdagang samiler. Terbersit pikirannya untuk masuk ke dalam minimarket dan meminta remahan itu sebelum dibuang, lumayan bisa untuk mengganjal perut.
“Mbak, maaf. Saya yang jual samiler di depan itu. Saya lapar. Bolehkan remahan tepung ayam goreng ini buat saya? Daripada dibuang,” kata pak tua. Si mbak penjaga melihat pak Tua yang bertubuh ringkih itu.
“Boleh, pak. Sebentar saya ambilkan wadah”
Si mbak menyerahkan sekantung penuh remahan tepung ayam goreng pada pak tua. Pak tua makan remahan itu dengan lahap; asupan yang mewah di tengah perut lapar di siang hari. Besoknya, si mbak menawari pak tua remahan tepung tanpa diminta, kali ini dengan sebungkus nasi hangat untuk menemani remahan tepung. Penjual samiler mengucap terimakasih dengan penuh haru. Pada hari ketiga penjual samiler tidak menerima remahan tepung, melainkn ayam goreng lengkap dengan nasi, dan sambal sachetan.
Pada hari ke-empat, si mbak yang sudah siap dengan sekotak nasi goreng ayam tidak menjumpai penjual samiler di depan minimarket. Demikian juga hari-hari berikutnya. Tidak ada yang tahu kemana penjual samiler menghilang.
Setengah tahun kemudian, ketika si mbak hendak pulang dari kerja di minimarket, ia bertemu penjual samiler di parkiran motor. Penjual samiler mengangsurkan dua kotak ayam goreng lengkap dengan nasi dan sambal. Di kotaknya ada cetakan nama dan gambar ayam, pakai bahasa Indonesia dan pakai ‘fried chicken’.
“Saya sengaja menunggu mbak di sini. Ini mohon terima ucapan terimakasih dari saya, dua kotak ayam goreng buatan saya,” kata pak samiler.
Si mbak melihat penjual samiler yang sudah berubah penampilannya; lebih rapi dengan pakaian lebih necis dan wajah lebih penuh semangat.
“Tidak jual samiler lagi?” tanya si mbak.
“Dulu itu kan saya kulak samiler dari kota kecil kemudian saya jual di Surabaya, kadang di depan minimarket ini. Ada banyak penjual yang begitu dari kota kecil kami. Kami kos di Surabaya, pulang ke kota kami dua minggu atau sebulan sekali. Penghasilan tidak cukup buat hidup. Saya sering kelaparan, dan mbak pernah kasih saya remahan tepung ayam goreng untuk mengganjal perut. Pada saat kelaparan, remahan tepung itu sungguh nikmat di lidah. Remahan tepung itu mendatangkan ide. Diam-diam saya pelajari rasa tepung ayam goreng itu dan terbersit ide untuk berdagang ayam goreng di kampung. Saya langsung pulang kampung di malam hari setelah mbak kasih saya ayam goreng dan nasi. Di kampung, saya gunakan uang tabungan sedikit buat meracik adonan tepung dan beli ayam. Saya bagikan ayam goreng secara cuma-cuma untuk para tetangga dengan catatan ia kasih saya masukan soal rasa ayam goreng. Ada yang suka ada yang tidak. Saya catat masukan dari para tetangga dan saya perbaiki rasa tepungnya. Perlahan tapi pasti ayam goreng saya makin diminati. Saya jual ayam goreng di pinggir jalan besar di kota saya dibantu anak dan istri. Sekarang saya sewa ruang kedai di jalan besar. Sehari bisa laku 200 potong. Saya bersyukur pernah menerima kebaikan mbak dengan remahan bumbu ayam goreng kapan hari itu dan kemudian ayam goreng lengkap dengan nasinya. Saya tidak menyia-nyiakan kebaikan itu dengan terus mengharap pemberian di hari berikutnya. Saya ingin berusaha memberi makan diri saya dan keluarga dengan usaha saya, yang kebetulan idenya berasal dari remahan itu,” panjang lebar di penjual samiler berbicara.
Si mbak mendengar dengan takzim. Si penjual samiler kemudian mengambil bungkusan dari tasnya. Sepuluh lembar samiler siap makan dalam kemasan dengan label nama yang lebih menarik dan tampak lebih higienis daripada sekadar tas plastik. “Ini buat mbak. Saya dulu sebetulnya ingin mengganti remahan dan ayam goreng dari mbak dengan sebungkus samiler, tapi saya takut rugi. Sekarang samiler saya juga laris di kampung”
Si mbak tercenung di atas motor dan melihat pak samiler berlalu dengan senyum riang. Ada kilatan semangat di mata tuanya ketika ia menunduk dan sekali lagi mengucap terimakasih pada si mbak. Si mbak kemudian menatap dua kotak ayam goreng dan sebungkus samiler. Si mbak tidak merasa ia pernah berbagi kebaikan dengan penjual samiler. Ia hanya bahagia bahwa pemberian remahan tepung tak berarti pada penjual samiler telah mendatangkan gagasan yang berguna untuk kehidupan penjual samiler. Ia percaya sepercik kebaikan akan membawa percik-percik kebaikan lain.
*samiler: krupuk terbuat dari singkong
[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]
