Jam menunjukkan pukul 10 malam. Mas Pandu menstart motor. Di bagian boncengan motor, terdapat sebuah keranjang plastik untuk menempatkan barang. Ia mulai menyusuri jalan dan beberapa saat kemudian berhenti di sebuah warung pinggir jalan, memborong nasi bungkus, dan snack basah. Ia kemudian lanjut ke meja sederhana ibu tua di pinggir jalan lain yang berjual gorengan, dan memborong gorengan. Muka Ibu tua penjual gorengan berseri-seri, tidak menduga gorengan yang sejak sore sulit laku, ternyata diborong pembeli.
Setelah memborong dagangan di beberapa penjaja makanan, Mas Pandu bergeser ke jalan lain, dan membagikan makanan pada orang-orang yang sekiranya membutuhkan asupan makanan. Ia memberikan nasi bungkus atau gorengan pada gelandangan, pada pedagang barang lain yang masih terjaga, pada pengemudi ojol yang sedang beristirahat atau ke pos-pos Satpam.
Buying and giving seperti ini dilakukan Mas Pandu hampir setiap malam. Apa saja yang ia lihat masih tersisa di meja pedagang di malam hari, ia beli. Bisa donat, bisa minuman sinom, macam-macam. Rata-rata ia menghabiskan Rp 100.000 untuk memborong dan menyalurkan makanan. “Saya pingin membantu para pedagang yang pendapatannya menurun drastis terutama pada saat pandemi COVID-19, sekaligus menghadirkan makanan untuk mereka yang mungkin membutuhkan,” kata Mas Pandu.
Mas Pandu sehari-hari adalah pelaku UMKM (Usaha Menengak Kecil dan Mikro) yang bergerak di bidang penyediaan pangan. Usahanya bernama Mumtaz Kitchen, dan menerima pesanan berbagai jenis produk makanan siap saji. Ia bekerja bersama istri dan beberapa asisten. Selain makanan ia juga menyediakan jasa transportasi dan toko online. Ketiga usaha ini ia rangkum dalam kesatuan yang ia sebut Mumtaz Group. Ia juga membuat program ‘buying dan giving’ itu dalam konsep Mumtas Peduli.
“Sebetulnya usaha kami awalnya juga terdampak pandemi corona. Pernah sebulan tanpa orderan hingga kami harus akrobat gimana caranya agar dapur tetap ngebul. Itu sebabnya kami semangat untuk berbagi ini karena merasakan sendiri dampak corona di dunia usaha,” imbuh pria alumni Fisip Unair ini.
Lantas, bagaimana Mas Pandu menggalang dana untuk aneka kegiatan Mumtaz Peduli?
Dana Mumtaz berasal dari donatur langsung. Donatur langsung adalah mereka yang langsung menyumbangkan dana untuk Mumtaz Peduli dan para pelanggan Mumtaz Grup. Pelanggan Mumtaz Kitchen atau penyewa mobil di Mumtaz Transport atau pembeli di Mumtaz Shop otomatis menjadi donatur Mumtaz Peduli. Jadi mereka beli berbagi kebaikan dalam satu langkah.
Selain berbagi makanan, Mumtaz Peduli juga menyantuni anak-anak miskin, piknik bersama anak miskin dan bahkan berbagi APD untuk tenaga kesehatan penanganan COVID-19.
Apa yang dilakukan Mas Pandu mungkin hanya kisah biasa dan biasa pula dilakukan orang. Namun, tetap saja kita bisa memetik pesan sederhana dan bermakna dari tindakan kecil itu, yakni gagasan dan semangat berbagi kebaikan dengan orang lain yang membutuhkan. Hal inilah yang memiliki nilai investasi sosial dan kebersamaan yang bermakna, terutama ketika orang tak terelakkan mengalami berbagai kesulitan hidup.
“Apa yang kita lakukan itu seperti bumerang,” ucap Mas Pandu. “Semua yang kita lakukan akan kembali pada kita”
“Namun yang terpenting adalah, bagaimana kita bisa menjadi solusi bagi orang lain dengan melakukan kebaikan,” pungkas Mas Pandu.
Apakah sobat kebaikan DarbeCoin terinspirasi dengan apa yang Mas Pandu sudah lakukan?
[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]