Seri Kebaikan dan Kebajikan #11

Sepercik Kebaikan Untuk Sebatang Pohon

[et_pb_section fb_built=”1″ admin_label=”section” _builder_version=”3.22″][et_pb_row admin_label=”row” _builder_version=”3.25″ background_size=”initial” background_position=”top_left” background_repeat=”repeat”][et_pb_column type=”4_4″ _builder_version=”3.25″ custom_padding=”|||” custom_padding__hover=”|||”][et_pb_text admin_label=”Text” _builder_version=”4.9.0″ text_text_color=”#606060″ text_font_size=”16px” background_size=”initial” background_position=”top_left” background_repeat=”repeat”]

Lelaki setengah baya itu, sebut saja Pak Adi. Setiap pagi ia berjalan kaki menyusuri sebuah jalan untuk berolahraga. Jalan yang biasa ia susuri tidak terlalu lebar dan tidak terlalu ramai. Pak Adi biasa berjalan di sepanjang trotoar di tepi jalan yang ditumbuhi sejumlah pohon. Setiap hari ia biasa menempuh sekitar 5 kilometer dan itu sudah dijalaninya selama 6 tahun.

Hal paling dikenang Pak Adi tentang jalan itu adalah suatu titik waktu lima tahun lalu saat ia melihat sebatang pohon pelindung trotoar yang baru ditanam yang  tampaknya nyaris mati kering. Dibandingkan dengan pohon-pohon lain, pohon yang satu ini agaknya luput dari perhatian petugas pertamanan pemerintah. Pak Adi merasa pohon itu tengah terengah-engah kehausan. Pak Adi memperhatikan pohon itu dan menoleh ke kiri dan kanan untuk mendapatkan air. Tidak ada air, tidak ada selolan. Tidak ada rumah yang halamannya terbuka dan bisa dimintai air.

Maka keesokan harinya, Pak Adi berangkat jalan pagi dengan satu jeriken air isi lima liter untuk menyiram satu pohon itu. Ia lakukan itu selama setiap hari sampai dua minggu ke depan. Setelah dua minggu, ia melihat pohon mulai segar dan tumbuh tunas. Ia juga tahu pohon itu mulai dirawat dengan baik oleh petugas pertamanan. Karena pohon itu telah dirawat dengan baik oleh petugas, Pak Adi tidak lagi membawa air untuk menyiramnya. Ia hanya menyapa sang pohon setiap kali ia lewat dengan kata-kata “Selamat pagi, pohon!”

Pak Adi menyapa pohon itu, kadang mengusapnya, setiap pagi selama lima tahun berikutnya. Ia menganggap pohon itu sahabatnya.

Dan pada suatu pagi, ia baru saja mengucapkan “Selamat pagi, pohon” ketika tiba-tiba ia mendengar suara benturan yang keras. Sebuah mobil yang berjalan kencang di jalan tiba-tiba oleng dan menabrak pohon sahabat Pak Adi itu. Pohon itu roboh dan menahan laju kendaraan. Daun-daun dan ranting berhamburan di trotoar. Pak Adi terkejut bukan alang kepalang. Orang-orang yang kebetulan lewat menatap Pak Adi. “Untung ada pohon ini, Pak. Kalau tidak, bapak pasti dapat celaka,” kata orang-orang itu.

Pak Adi duduk termenung di dekat pohon roboh. Ia tahu Tuhan telah mengizinkan pohon ini tumbuh untuk  menyelamatkan nyawanya. Kalau saja ia tidak menyirami poho ini selama dua minggu lima tahun lalu, mungkin pohon ini tak akan pernah berdiri di sini untuk menghentikan laju mobil nyelonong dan menyelamatkan jiwanya.

Kisah di atas mungkin sepele, tapi menyiratkan pesan bahwa hari itu sebatang pohon membayar kebaikan Pak Adi lima tahun lalu.

Apakah Anda terinspirasi oleh kisah kebaikan manusia terhadap lingkungan. Apakah Anda berpikir bahwa alampun akan membayar hutangnya pada Anda?

[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *