Seri Kebaikan dan Kebajikan #9

Giving Is The Best Communication

[et_pb_section fb_built=”1″ admin_label=”section” _builder_version=”3.22″][et_pb_row admin_label=”row” _builder_version=”3.25″ background_size=”initial” background_position=”top_left” background_repeat=”repeat”][et_pb_column type=”4_4″ _builder_version=”3.25″ custom_padding=”|||” custom_padding__hover=”|||”][et_pb_text admin_label=”Text” _builder_version=”4.9.0″ text_text_color=”#606060″ text_font_size=”16px” background_size=”initial” background_position=”top_left” background_repeat=”repeat”]

Suatu sore di sebuah pasar. Seorang bocah laki-laki tengah dimaki-maki pedagang obat karena bocah ini mencuri sejumlah obat-obatan pereda sakit. Pedagang mi goreng yang kebetulan tak jauh dari tempat kejadian menengahinya. Si pedagang mi goreng mengganti biaya obat yang dicuri sang bocah. Si pedagang mie goreng juga menyuruh anak perempuannya yang seumuran bocah laki-laki itu untuk memberi si bocah sayuran sup. Bocah laki-laki itu menerima pemberian obat-obatan dan sayuran untuk sup dan segera berlari menjauh.

Tiga puluh tahun kemudian. Si pedagang mi  goreng tumbang ketika melayani pembeli. Putri pedagang mi membawanya ke rumah sakit. Putri pedagang mi resah karena biaya dokter dan rumah sakit menembus angka 792.000 baht (setara 380 juta rupiah).Ia sempat mendapatkan penjelasan dari dokter tentang penyakit sang ayah dan biaya perawatannya. Lalu bagaimana cara mendapatkan uang sebanyak itu? Putri pedagang mi mencoba menjual rumah dan warung sederhananya untuk mendapatkan uang. Namun, sebelum rumah lalu terjual, ia dikejutkan tagihan baru. Tagihan yang disertai salam dari dokter yang merawat ayahnya. Tagihan rumah sakit itu berbunyi, “Tagihan total sisa 0 baht. Sudah dibayar tiga puluh lalu dengan obat pereda sakit dan sekantung  sayuran sup. Tertanda Dr Prajak Arunthong”. Rupanya dr Prajak adalah bocah laki-laki yang mencuri obat pereda sakit di pasar waktu itu, dan sang dokter pasti masing ingat kebaikan si pedagang mi goreng.

Ini adalah cerita video untuk iklan telepon seluler True Move di Thailand. Di akhir video, iklan itu mengusung tagline ‘giving is the best communication’ (memberi adalah cara berlomunikasi terbaik). Konon diangkat dari kisah nyata Dr Prajak Arunthong yang terkenal suka memberi pertolongan pada pasien yang tidak mampu. Dr Prajak ‘membayar hutang’nya tiga puluh tahun lalu, hutang kebaikan yang diberikan oleh pedagang mi goreng ketika ia tak punya uang untuk membeli obat. Karena terkesan oleh kebaikan si pedagang mie goreng inilah, Dr Prajak menjadi dokter yang siap mengulurkan tangan bagi mereka yang membutuhkan.

Versi resmi video ini yang dirilis oleh True Move telah ditonton oleh lebih dari 41 juta orang. Versi-versi tayang ulang juga banyak diklik pemirsa. Contoh-contoh kebaikan nyata agaknya telah memberi inspirasi bagi banyak orang. Semoga berbagai pernik kebaikan akan senantiasa menjadi bagian dari komunikasi antar manusia.

[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *