Kebaikan itu tak pernah sirna. Hanya saja kita seperti tak punya waktu dan tenaga lagi untuk menggalinya.
Dalam perkembangan peradaban, manusia sudah bergulat untuk menyaksikan bahwa pada dasarnya, dari semua tindakan manusia, kebaikanlah yang harus dipertahankan karena kebaikan yang berbalas kebaikan melahirkan kebaikan-kebaikan baru.
Namun, seiring perjalanan zaman, kehidupan manusia makin rumit dan pelik dan nyaris tidak menyediakan ruang bagi kebaikan agar bisa berlangsung. Hubungan manusia ditengahi oleh tingginya pemujaan manusia terhadap benda. Itu karena nilai materi—kebendaan—menjadi lebih tinggi daripada kebaikan. Semua perilaku dianggap harus diimbali dengan materi, dengan uang, dengan pujian. Kalau ada orang lapar di hadapan kita, kita tidak mudah tergerak untuk menolong . Kita sibuk menghitung-hitung untung ruginya kalau kita turun tangan untuk menolong. Jika genting rumah tetangga runtuh tertimpa pohon ambruk, kita hanya menoleh dan berpikir si tetangga nanti toh bisa bayar tukang untuk memperbaiki kerusakan. Kalau ada ibu-ibu penjual nasi jagung berjalan terseok-seok di depan rumah membawa beban dagangan di punggung dan di kedua tangan, dan menghiba-hiba agar dagangannya dibeli, kita tutup pintu pagar; di meja makan sudah ada makanan buatan istri. Lagian, nasi jagung itu belum tentu enak.
Kita berhenti mampu untuk menjalankan kebaikan padahal peluang itu ada dan di depan mata. Itu karena kita kini mengukur tindakan-tindakan kita dengan hitungan untung rugi, karena kita mengira berbuat baik tak ada imbalan kontannya.
Kini, bumi yang lelah seperti telah mengembalikan kita ke awal yang baik. Kita mulai mampu membuka mata untuk mengarifi nilai-nilai kebaikan, dan makin sadar bahwa melakukan kebaikan itu sama sekali tidak sulit, tidak rugi harta benda, tidak menyia-nyiakan waktu dan tidak menguras tenaga kita yang berharga. Kita mulai biasa menyediakan makan siang cuma-cuma bagi yang butuh pada hari-hari tertentu; kita merelakan kendaraan pribadi kita dipakai secara cuma-cuma untuk mengantar tetangga sakit ke rumah sakit; kita menyingkirkan batu-batu berserak di jalan agar tak ada pejalan kaki tersandung; kita sapu dan buang sampah di sekitar kita agar lingkungan bersama sedap dipandang, kita tidak minta diskon ketika nenek-nenek penjual buah menawarkan pisang; dan kita membeli dengan ikhlas jajanan bipang yang dijajakan pakde tua yang menunggu dagangannya sembari terkantuk-kantuk di depan pintu minimarket. Lihatlah, ada berjuta-juta peluang untuk berbuat baik dan menjalankan kebaikan bagi orang; dari yang cuma butuh waktu sepuluh detik sampai waktu berhari-hari. Kita cuma perlu buka mata dan hati untuk tergerak menjalankan kebaikan. Kita cuma butuh kemampuan untuk turut merasakan kesulitan dan kesedihan orang lain.
Dunia dan bumi kita makin kompleks dan persoalan hidup manusia kian tidak mudah. Sudah tiba saatnya yang berkemudahan meringankan beban yang berkesulitan. Kita bisa mulai mewarnai hidup kita dengan meluangkan sedikit waktu, materi dan tenaga bukan untuk hitungan untung rugi, namun untuk meyakini bahwa berbagi, berbaik hati, berbaik sangka, berbaik tindakan adalah wujud kesejatian kehidupan manusia. Berbuat baik sebagai cara untuk menempuh kebahagiaan. Salam kebaikan!
#kebaikan #berbagi #kebajikan #tolongmenolong #tidakmaterialistis #bukamatahati #ulurkantangan #darbecafé
[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]
Satu pemikiran pada “Masih Adakah Kebaikan?”
Hi, this is a comment.
To get started with moderating, editing, and deleting comments, please visit the Comments screen in the dashboard.
Commenter avatars come from Gravatar.