[et_pb_section fb_built=”1″ admin_label=”section” _builder_version=”3.22″][et_pb_row admin_label=”row” _builder_version=”3.25″ background_size=”initial” background_position=”top_left” background_repeat=”repeat”][et_pb_column type=”4_4″ _builder_version=”3.25″ custom_padding=”|||” custom_padding__hover=”|||”][et_pb_text admin_label=”Text” _builder_version=”4.9.0″ text_text_color=”#606060″ text_font_size=”16px” background_size=”initial” background_position=”top_left” background_repeat=”repeat”]
Pak Suwarno sampai rumah selepas maghrib, tampak kelelahan setelah mengayuh sepeda yang dipenuhi alat alat-alat rumah tangga. Barang dagangan yang dibawa jauh ke pelosok desa hari ini tak banyak laku. Ketika ia hendak masuk rumahnya yang sederhana, tiba-tiba datang Mas Jarot dengan sepeda motornya. Ia memberikan sekotak makanan dalam tas plastik.
“Ini untuk Pak Warno,” kata Mas Jarot. “Maaf makanannya sudah dingin. Pas dapat rezeki. Tadi beli banyak buat saya bagi-bagi ke tetangga. Tadi saya belinya di kota,” tambah Mas Jarot . Pak Suwarno mengucapkan terimakasih.
Masuk rumah, ia membuka kotak makanan itu dan mengamati makanan itu; sejenis makanan berbentuk bundar seukuran piring makan yang sudah dipotong-potong jadi enam segitiga. Ia tidak pernah tahu makanan itu. Ia mengangkat seiris makanan itu, mengendusnya dan tampak tidak senang dengan aromanya.
“Apa sih maunya Mas Jarot itu? Masak kasih orang tua kayak saya makanan basi begini!” Pak Suwarno menggerutu alih-alih bersyukur mendapatkan makanan gratis dari tetangga.
Pak Suwarno hendak melempar makanan sekotak itu ke tempat sampah ketika Rini, anak perempuannya masuk rumah.
“Apa itu pak? Kok dibuang?” tanya Rini.
“Ini dari Mas Jarot. Anak muda tetangga kurang sopan santun itu. Masak ngasih bapak makanan basi begini?” Pak Suwarno menunjukkan kotak makanan itu.
Rini mengambil kotak itu. Matanya berbinar.
“Ini pizza, pak! Ini pizza! Aku tadi ke diajak kota sama teman-teman. Teman-teman pada beli pizza ini di restoran pizza baru di kota, katanya lagi ada promo. Aku juga pingin nyoba makan pizza itu, tapi bapak kan tidak kasih aku uang, jadi ya aku gak bisa beli,” kata Rini.
“Makanan apa tadi kau bilang? Jadi ini bukan makanan basi?” tanya Pak Suwarno.
“Itu pizza. Itu baru, hanya saja makanan itu sudah dingin dan bapak baru tahu jenis makanan itu,” tukas Rini. “Sini, biar aku makan. Beruntung sekali ada yang kasih pizza ini. Tadi waktu teman-teman makan, aku cuma bisa menelan ludah”
Rini mengambil seiris pizza dan makan dengan nikmat. Pak Suwarno tahu Rini suka sekali makanan pemberian Mas Jarot itu. “Uih, enaknya. Ini makanan dari luar negeri lo, pak. Nggak mau nyoba?” kata Rini.
Pak Suwarno tidak menyahut. Ia malah berjalan cepat ke luar rumah.
“Bapak mau kemana?” tanya Rini.
“Ke rumah Mas Jarot. Mau bilang terimakasih sekali lagi. Bapak malu. Mas Jarot sudah berbaik hati memberikan makanan, yang ternyata kamu inginkan, tapi Bapak malah menggerutu dan menuduh Mas Jarot yang bukan-bukan karena kebodohan dan ketidaktahuan Bapak. Sebentar Bapak balik!”
Sahabat DarbeCoin, ada kalanya kita lupa dan tidak bisa mengapresiasi kebaikan orang lain karena kadang kebaikan itu hadir dalam rupa yang tak pernah kita lihat dan alami sebelumnya. Mudah-mudahan pengalaman Pak Suwarno dan kebaikan hati Mas Jarot bisa menginspirasi Anda untuk mengapresiasi kebaikan orang lain sekecil dan seremeh apapun, sebab bisa saja ada bagian-bagian dari kehidupan kita yang mendapatkan manfaat besar dari sebuah kebaikan kecil.
[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]
