Seri Kebaikan dan Kebajikan #04

Kebaikan Sederhana dari Sebilah Pintu

[et_pb_section fb_built=”1″ admin_label=”section” _builder_version=”3.22″][et_pb_row admin_label=”row” _builder_version=”3.25″ background_size=”initial” background_position=”top_left” background_repeat=”repeat”][et_pb_column type=”4_4″ _builder_version=”3.25″ custom_padding=”|||” custom_padding__hover=”|||”][et_pb_text admin_label=”Text” _builder_version=”4.9.0″ text_font_size=”16px” background_size=”initial” background_position=”top_left” background_repeat=”repeat” hover_enabled=”0″ text_text_color=”#606060″ sticky_enabled=”0″]

Seorang Facebooker menulis hasil survai sederhana tentang etika buka-tutup pintu otomatis di ruang publik. Hasilnya menyiratkan bahwa etika belum sepenuhnya bisa dikembangkan sebagai wujud kebaikan sederhana.

Pintu ruang ATM atau minimarket biasanya adalah jenis swing door (pintu berpegas) yang bisa membuka-tutup secara otomatis. Si Facebooker melakukan pengamatan atas 100 kasus buka-tutup pintu otomatis. Pengamatan ia bagi dua jenis: A) Ia yang buka pintu duluan (50 kali), dan B) orang lain membuka pintu duluan (50 kali). Pada kasus A, dari 50 kali buka pintu, 44 kali orang ikut masuk di belakang tanpa menahan pintu, yang berarti si Facebooker yang menahan pintu itu sampai si pengikut masuk. Dari 44, 10 di antaranya rombongan lebih dari satu orang. Yang menarik, dari 44 itu, hanya 5 yang bilang terimakasih.

Pada kasus B, si Facebooker menunggu orang lain membuka pintu. Dari 50 kasus begini, 47 di antaranya langsung melepas pintu sebelum si Facebooker sempat menahan pintu, tak perduli apakah daun pintu berayun mengenai si Facebooker. Hanya 3 orang yang ‘bersedia’ menahan pintu , atau setidaknya menunggu si Facebooker gantian menahan pintu. Dari 100 kasus A dan B di atas, terdapat jumlah berimbang antara laki-laki dan perempuan.

Mengapa belum timbul kebiasaan baik saling bantu untuk hal sederhana seperti menahan pintu di ruang publik? Mengapa etika ini belum berkembang menjadi wujud kebaikan yang sederhana dan tak perlu biaya?

Boleh jadi itu karena kita lebih terbiasa menerima kebaikan dari orang lain daripada memberi kebaikan kepada orang . Kita terlanjur lebih suka berharap orang melakukan kebaikan kepada kita, dan belum terbiasa melakukan kebaikan-kebaikan sederhana dan itulah sebabnya kita belum tahu cara membalas kebaikan orang lain atau setidaknya bagaimana cara bersama-sama memelihara kebaikan itu.

Nah, mulai saat ini, bila ada seseorang yang membuka pintu minimarket, maukah Anda membiarkan orang itu lewat terlebih dahulu dan gantian Anda menahan pintunya? Bila Anda membuka pintu duluan, maukah Anda menahan pintu agar daun pintu tidak terhempas ke orang di belakang Anda?

Turut menahan pintu otomatis di ruang publik adalah bentuk kebaikan sederhana yang gampang dilakukan namun masih susah untuk ditingkatkan menjadi kebiasaan. Mari kita cetak kebaikan hari ini dengan membantu menahan pintu otomatis di ruang publik untuk memudahkan gerakan orang lain.

Kebaikan-kebaikan kecil kepada orang lain yang kita prakarsai setiap saat akan melatih kita untuk bisa mencetak kebaikan-kebaikan besar yang bermanfaat bagi sesama.

[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *