[et_pb_section fb_built=”1″ _builder_version=”3.22″][et_pb_row _builder_version=”3.25″ background_size=”initial” background_position=”top_left” background_repeat=”repeat”][et_pb_column type=”4_4″ _builder_version=”3.25″ custom_padding=”|||” custom_padding__hover=”|||”][et_pb_text _builder_version=”4.9.0″ text_font_size=”16px” background_size=”initial” background_position=”top_left” background_repeat=”repeat” hover_enabled=”0″ text_text_color=”#606060″ sticky_enabled=”0″]
Kita tak akan pernah tahu bahwa satu kebaikan yang kita lakukan akan menghadirkan beberapa kebaikan lain.
Pria tua pemulung itu terhenti langkahnya tatkala melihat uang kertas sepuluh ribu rupiah terlipat lusuh di jalan di gang sepi di sebuah kampung. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, cari tahu mungkin ada orang kehilangan uang itu. Tapi tak ada siapapun di situ. Ia kemudian memungut dan mengantongi uang itu dan melangkah mencari warung makan. Sepagian ia memang belum makan. Uang temuan itu bisa untuk beli sepiring nasi tempe sayur untuk mengganjal perut.
Ia menyusuri gang padat menuju ke sebuah warung yang ia tahu menyediakan makan murah. Langkahnya terhenti lagi, kali ini oleh tangis seorang bocah kecil yang tampaknya tengah menerima omelan tiada henti dari ibunya. “Kenapa menangis, le?” tanya pak tua pemulung. “Ini anak ngotot minta beli celengan, saya ndak ada uang,” jawab si ibu sembari menunjuk keranjang berisi berbagai kerajinan tanah liat yang dibawa seorang pedagang keliling.
Pak tua tercenung sesaat, melihat bocah yang masih terhisak, dan bertanya “Berapa harganya?”. “Sepuluh ribu,” tukas si ibu. Tanpa pikir panjang pak tua mengais uang yang ia temukan di jalan dan memberikannya kepada pedagang tanah liat. “Beli satu celengan untuk bocah itu”. Pedagang tanah liat menerima uang dan memberikan celengan pada si bocah. Si bocah berubah suka – cita, matanya berbinar-binar, tangisnya berhenti mendadak. Pemulung tua menyungging senyum. Ada rasa lega di dada. Si Ibu berterimakasih.
“Matur nuwun saya dapat penglaris pagi ini. Seharian baru terjual satu ini,” kata pedagang tanah liat. Pedagang langsung mengangkat dagangannya dan melaju ke warung makan yang tadi hendak dituju pemulung tua. Pemulung tua menyaksikan pedagang tanah liat makan nasi sayur tempe dengan lahap dan mengangguk takzim pada pemulung tua. Pemulung menyungging senyum. Ia merasa keluasan tiada tara dalam hatinya, bukan karena ucapan terimakasih dari si ibu bocah dan pedagang tanah liat, tapi karena binar-binar suka-cita di mata si bocah dan betapa lahapnya pedagang tanah liat menyantap sarapannya.
Pemulung tua tidak sadar ia telah melakukan kebaikan. Ia hanya ingin si bocah mendapatkan celengan untuk menabung uang, suatu awal sifat baik seorang bocah. Dan pemulung tua itu tak pernah tahu bahwa keikhlasannya telah membuat si pedagang tanah liat beroleh sarapannya lebih segera.
[/et_pb_text][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]
